Cara Mengelola dan Menghitung Risiko Proyek

OBATKECANTIKAN.COM – Istilah terakhir yang erat kaitannya dengan keuangan adalah bagaimana mengelola dan menghitung risiko suatu proyek (project risk management). Secara umum, tujuan utama dari manajemen risiko adalah untuk mencegah atau meminimalkan dampak buruk dari kejadian yang tidak terduga melalui penghindaran risiko atau penyusunan rencana kontinjensi yang terkait dengan risiko tersebut. Dalam manajemen proyek, risiko proyek merupakan suatu kejadian atau kondisi yang tidak pasti, dan jika terjadi akan berdampak positif atau negatif terhadap tujuan proyek. Suatu risiko memiliki sebab dan jika terjadi akan berdampak, oleh karena itu risiko dapat dinyatakan sebagai fungsi probabilitas dan dampak.

Proses Manajemen Risiko

Bagian terakhir yang akan dibahas tentang keuangan adalah proses yang harus diikuti dalam manajemen risiko. guna lebih jelasnbetul ikuti poin-poin di dasar ini, ya!

Manajemen Risiko

Perencanaan mencakup langkah memutuskan bagaimana mendekati dan merencanakan kegiatan manajemen risiko untuk suatu proyek. Dengan mempertimbangkan ruang lingkup proyek, rencana manajemen proyek, faktor lingkungan perusahaan, tim proyek dapat mendiskusikan dan menganalisis aktivitas manajemen risiko untuk proyek tertentu.

Identifikasi Risiko

Sebagai rangkaian proses, identifikasi risiko dimulai dengan memahami apa yang sebenarnya merupakan risiko. Selanjutnya adalah pendefinisian risiko-risiko yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan proyek dan mendokumentasikan karakteristik masing-masing risiko dengan melakukan hasil utama dari langkah ini adalah risk register.

Analisis Risiko Kualitatif Analisis kualitatif

dalam hal manajemen risiko adalah proses menilai dampak dan kemungkinan risiko yang teridentifikasi. Proses ini dilakukan dengan menyusun risiko berdasarkan dampaknya terhadap tujuan proyek.

Analisis Kuantitatif

Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi risiko kemungkinan kegagalan sistem dan memprediksi besarnya kerugian. Analisis ini dilakukan dengan menerapkan rumus matematika yang berhubungan dengan nilai finansial. Secara matematis, perhitungan risiko dilanjutkan dengan mengalikan tingkat probabilitas kejadian dengan dampak. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam mengatasi risiko yang teridentifikasi. Meskipun analisis kuantitatif ini menggunakan pendekatan matematis, pada prinsipnya analisis ini merupakan tindak lanjut dari hasil analisis kualitatif. Kesulitan utama dalam analisis risiko kuantitatif adalah dalam menentukan tingkat kemungkinan karena data statistik tidak selalu tersedia untuk semua peristiwa.  

 Penanganan Risiko

Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu proses yang dilakukan untuk meminimalkan tingkat risiko yang dihadapi ke tingkat yang dapat diterima. Secara kuantitatif, upaya meminimalkan risiko dilakukan dengan menerapkan langkah-langkah yang bertujuan untuk mengurangi jumlah hasil pengukuran yang diperoleh dari analisis risiko.

Istilah Keuangan Islam

Setelah mengetahui istilah keuangan umum/konvensional. Untuk menambah pengetahuan Anda, berikut beberapa istilah keuangan syariah yang belum Anda ketahui.
Perbankan Syariah adalah sistem perbankan yang berdasarkan prinsip syariah. Berikut adalah istilah yang paling populer dan wajib dalam perbankan syariah untuk Anda ketahui.

1. Akad
Akad yaitu kontrak antara klien serta bank dalam penawaran (penjelasan mengikat) serta perkenan (penjelasan tanggapan surat utang) serupa dengan tujuan syariat yang pengaruhi entitas susunan. Contoh akad ini misalnya akad pembukaan rekening tabungan atau akad pembiayaan.

2. Prinsip Syariah
Jika sering membaca ada istilah-istilah yang berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah aturan kesepakatan berdasarkan hukum Islam antara nasabah dan bank untuk menyimpan dana atau kegiatan pembiayaan usaha dan pembiayaan lainnya sesuai dengan prinsip syariah/syari.

3. Pembagian Bagi Hasil
Dari istilah yaitu bagi hasil adalah pembagian keuntungan dari bank syariah kepada nasabah berdasarkan nisbah yang telah disepakati kedua belah pihak setiap bulannya. Bagi hasil yang diperoleh dihitung berdasarkan jumlah dan jangka waktu simpanan serta pendapatan bank dalam satu periode. Besarnya bagi hasil dihitung dari pendapatan bank sehingga nasabah pasti mendapatkan dana dari bagi hasil dan tidak kehilangan pokok simpanan.

4. Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Dewan Pengawas Syariah bertugas memantau kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam operasional perbankan syariah. DPS terdiri dari ulama yang diangkat oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia dengan persetujuan Bank Indonesia.

5. Margin
Besarnya keuntungan yang disepakati antara bank syariah dengan nasabahnya atas transaksi pembiayaan akad jual beli (murabahah) disebut Margin. Margin pembiayaan bersifat tetap dan tidak berubah selama jangka waktu pembiayaan.

6. Rasio
Rasio adalah bagian bagi hasil antara bank syariah dan nasabah atas transaksi pendanaan dan pembiayaan dengan akad bagi hasil (mudharabah dan musyarakah).

7. Bai’ ALMUTHLAQ
Bai’ al Muthlaq dilakukan untuk jual beli barang-barang kantor (harta tetap). Jual beli seperti ini menjiwai semua produk berdasarkan transaksi jual beli.

8. Muqayyad
Muqayyad adalah kegiatan perdagangan antara barang dengan barang (barter). Kegiatan jual beli tersebut dilakukan sebagai solusi atas ekspor yang tidak dapat menghasilkan mata uang asing (valas).

9. Sharf
Merupakan kegiatan jual beli mata uang asing yang berbeda, misalnya Dollar dengan Yen, Rupiah dengan Dollar. Sharf dilakukan dalam bentuk Bank Notes dan transfer, dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat transaksi.

10. Murabahah
Ini adalah istilah dalam perbankan syariah yang umum ditawarkan. Istilah ini merupakan akad jual beli, dimana keuntungan dan harga disepakati antara penjual dan pembeli. Jenis dan jumlah barang tersebut kemudian akan dijelaskan secara detail oleh pihak bank syariah. Kemudian barang diserahkan setelah terjadi akad jual beli dan pembayaran dapat dilakukan dengan cara mencicil atau sekaligus.

11. Salam
Salam juga merupakan kegiatan jual beli dengan cara memesan. Artinya, pembeli memberikan uang terlebih dahulu untuk barang yang ditawarkan dan spesifikasinya telah disebutkan, kemudian barang tersebut akan dikirim. Salam biasanya digunakan sebagai perjanjian jual beli produk pertanian. Dalam hal ini, lembaga keuangan bertindak sebagai pembeli produk dan memberikan uang terlebih dahulu, sedangkan pelanggan menggunakannya sebagai modal untuk mengelola pertanian mereka.

12. Istishna’
Istishna adalah jual beli barang dalam bentuk pesanan, dalam hal ini barang dibuat berdasarkan pesanan pelanggan berdasarkan persyaratan dan kriteria tertentu. Kemudian pola pembayaran dapat dilakukan sesuai kesepakatan, baik pada saat penyerahan barang maupun dapat dilakukan dimuka.

13. Mudharabah
Mudharabah adalah akad antara pemilik modal (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) dimana nisbah bagi hasil disepakati di awal, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal.

14. Mudharabah Muqayyadah Akad
Mudharabah Muqayyadah adalah akad antara pemilik modal untuk suatu usaha yang ditentukan oleh pemilik modal (shahibul mal) dan pengelola (mudharib). Dimana dalam akad ini nisbah bagi hasil disepakati di awal untuk dibagikan, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal. Dalam terminologi perbankan syariah, Mudharabah Muqayyadah biasa disebut dengan Investasi Khusus.

15. Musyarakah Akad Musyarakah
adalah akad antara dua atau lebih pemilik modal untuk menyatukan modalnya untuk suatu usaha tertentu. Pelaksanaannya dapat ditunjuk oleh salah satu pemilik modal. Akad musyarakah diterapkan pada usaha atau proyek yang sebagian dibiayai oleh lembaga keuangan sedangkan sisanya dibiayai oleh nasabah.

16. Musyarakah Mutanaqisah
Musyarakah Mutanaqisah adalah istilah bank syariah yang berarti akad antara dua pihak atau lebih yang mempersekutukan atau membagi suatu barang dimana satu pihak kemudian membeli bagian pihak lain secara bertahap. Kontrak ini biasanya berlaku untuk pembiayaan proyek yang dibiayai oleh lembaga keuangan dengan nasabah atau lembaga keuangan lainnya dimana bagian lembaga keuangan tersebut dibeli secara bertahap oleh pihak lain secara mencicil.

17. Wadi’ah Akad
Wadiah adalah akad yang dibuat oleh bank dan nasabah dimana pihak pertama menitipkan suatu barang kepada pihak kedua. Lembaga keuangan Islam menerapkan kontrak ini ke rekening giro.obatkecantikan.com

18. Wakalah
Akad wakalah adalah representasi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Wakalah biasanya diterapkan pada pembuatan Letter of Credit, untuk pembelian barang di luar negeri/barang impor) atau penerusan permintaan.

19. Ijarah Akad
penyewaan barang antara kedua belah pihak, untuk memperoleh manfaat dari barang yang disewakan. Perjanjian sewa yang terjadi antara lembaga keuangan (pemilik barang) dan pelanggan (penyewa) dengan angsuran sewa yang mencakup angsuran pokok harga barang sehingga pada akhir perjanjian penyewa dapat membeli barang tersebut. barang dengan sisa harga yang kecil atau berikan saja ke bank. Karena itulah Ijarah biasa disebut al Ijarah waliqtina’ atau al Ijarah al Muntahia Bittamliik.

20. Kafalah
Kafalah adalah akad penjaminan dari satu pihak kepada pihak lain. Di lembaga keuangan biasanya digunakan untuk membuat jaminan untuk suatu proyek (performance bond), keikutsertaan dalam tender (tender bond) atau uang muka (advance payment bond).
Bagaimana? Apakah Anda sekarang mengerti tentang keuangan dan semua itu? Jika Anda ingin memulai perusahaan sendiri, setidaknya Anda harus mengerti sedikit tentang penjelasan di artikel ini. Selain itu, kamu juga bisa menggunakan JojoExpense lho! Aplikasi ini akan membantu Anda untuk mengelola keuangan perusahaan, terutama untuk pengeluaran! Dengan aplikasi ini, efisiensi manajemen pengeluaran perusahaan Anda dapat meningkat hingga 76%! Sangat menarik, bukan?

Akhir Kata

Itulah Artikel “Cara Mengelola dan Menghitung Risiko Proyek“, Semoga bisa menambah wawasan kalian yah.
(‘TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA DAN JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI..’)

Leave a Comment